SERVICE EXCELLENCE TIDAK ADIL?
Hai rekan
kereeeen, apa kabar? Bagaimana dengan service experience yang anda
dapatkan akhir-akhir ini, saat anda mendapatkan pelayanan dari para
frontliners dimana anda bertransaksi?
Sebagai
Customer bagaimana perasaan anda jika anda dilayani berbeda? Marah?
Kecewa? Komplain? Atau bahkan anda pindah ke Perusahaan lain?
Buat saya Service Excellence itu tidak adil, percaya ngga? Mau bukti?
Saat
anda berada di bandara dan melihat counter check in, apakah pelanggan
kelas bisnis atau bahkan first class sama dengan pelanggan kelas
ekonomi? Mulai dari counter check in, tempat duduk sampai dengan
penanganan bagasi sangat berbeda antara kelas bisnis dan ekonomi, benar?
Mari
kita lihat layanan di perbankan, apakah nasabah reguler perlakukuannya
sama dengan nasabah di kelas priority banking? Betapa nyamannya nasabah
yang dilayani dipriority banking. Mereka dilayani ditempat yang jauh
lebih nyaman dan dengan fasilitas yang jauh lebih banyak. Bahkan saat
inipun nasabah priority banking di beberapa bank-pun dibagi lagi menjadi
beberapa tingkatan.
Bagaimana dengan hotel?
Jika anda menginap di kamar superior maka anda akan mendapatkan
fasilitas dan layanan yang berbeda dengan mereka yang menginap di kamar
presidential suite. Terbukti, service excellence itu amat sangat tidak
adil.
Rekan-rekan kereeeeen, Service Excellence
itu harus “tidak adil”. Yup, anda tidak salah membaca, saya mau
sampaikan sekali lagi Service Excellence itu harus “tidak adil”. Jika
anda adalah pelaku bisnis dan service provider, maka rekan-rekan
kereeen, anda harus memastikan “ketidakadilan” ini berlaku.
“Ketidakadilan”
ini adalah strategi service anda untuk memastikan customer kakap senang
berenang di dalam kolam bisnis anda. “ketidakadilan” ini juga adalah
umpan anda untuk mengundang lebih banyak lagi customer kakap datang.
Bukankah tidak mungkin anda merawat kakap di akuarium ikan cupang?
“Ketidakadilan”
ini sering dikenal dengan istilah segmentasi pelanggan atau bahasa
kerennya Customer Segmentation. Setiap segmen customer dianalisis dan
dihitung seberapa kontribusinya terhadap keuntungan perusahaan. Value
per Customer dihitung dengan jelas, bahkan lewat analisis ini perusahaan
dapat menentukan strategi rekrutmen customer sebagai bonus. Misalnya
jika value per customer lebih besar dari biaya akuisisi maka rekrutmen
new customer dapat dijalankan, sedangakan apabila ternyata value
customer lebih rendah dari biaya akuisisi maka perusahaan dapat
menghentikan sementara rekrut new customer dan fokus pada peningkatan
value per customer lewat kegiatan up selling.
Anda
akan mendapatkan bonus tersebut apabila anda mulai memberlakukan
“ketidakadilan” ini disamping anda juga akan mampu memberikan layanan
prima yang sesuai dengan level segmentasi dari customer anda.
sumber : kutipan dari komunitas Secindo,
kami akan share kembali informasi terbaik yang kami miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar